Posted by: arfebrina | May 1, 2013

Disturbing Experience Series: Pants Hole

Oh, seperti judulnya, pengalaman yang akan saya share kali ini adalah salah satu pengalaman ‘disturbing’ yang pernah saya alami. Kind a like my posts about the toilet type at that country. Dan, sebagai peringatan, lebih baik anda tidak membaca postingan ini ketika anda sedang makan.

Well, it is understandable that every country has their unique and different experience. Seperti yang saya alami di negara tirai bamboo dengan penduduk paling padat sedunia itu. Sebenarnya, mungkin sudah jadi rahasia umum bahwa penduduk negara ini punya kebiasaan yang agak jorok. Yah, setidaknya itu menurut saya. Tapi, kalau sampai melakukan hal ini di food court, saya rasa sudah agak kelewatan.

Jadi ceritanya, saya dan mama saya, yang saat itu sedang berkunjung ke ibu kota negara ini, pergi berbelanja ke sebuah pusat perbelanjaan barang counterfeit. Merasa lelah, kami berdua memutuskan untuk makan di food court yang terletak di lantai paling atas pusat perbelanjaan ini. Semuanya berjalan seperti biasa makan di food court, pilih makanan, pilih meja, makanan datang dan kita mulai makan. Sampai akhirnya tiba-tiba ada suara tangisan anak kecil yang kebetulan duduk di depan kami bersama keluarganya. Di sinilah horror dimulai

Pertamanya sih kita tidak mempedulikan dan terus makan, tetapi anak kecil itu mulai melakukan gerakan-gerakan yang tidak mengenakkan di mata. Kami mulai terkejut ketika kami melihat anak itu dari belakang dan celananya bolong tepat di bagian pantat!! Memang di negara ini sudah umum kalau anak-anak memakai celana dengan bagian pantat yang bolong. Setelah diselidiki, memang itu ditujukan untuk memudahkan anak-anak itu untuk buang air (dan, juga menghemat uang pampers / popok saya rasa). Tetapi, jika ditelaah lebih lanjut, saking mudahnya, anak-anak itu juga berarti bisa buang air di mana saja. Termasuk, buang air besar.

Yah, sebenarnya bagian bolong di pantat tidak terlalu mengganggu saya dan mama saya, lagipula itu hanya pantat anak kecil. Tetapi, ketika anak kecil itu mulai berjongkok, mata saya mulai terbelalak dan mama saya diam membisu. Kami berdua seolah-olah sedang menunggu bagian paling klimaks dari suatu film. Kejadian berikutnya terlihat bagaikan slow motion. Anak kecil itu mulai menarik dan menahan nafas, 3 detik kemudian sesuatu mirip pisang goreng meluncur dari pantat anak itu dengan mulusnya.

Sedetik, dua detik, saya dan mama tidak bereaksi, kami hanya menelan ludah ketika melihat ‘pisang goreng’ itu tergeletak di lantai. Kemudian, si anak diangkat sama ibunya, pantatnya yang terlihat itu dilap dengan tissue, lalu mereka kembali makan seperti biasa, seolah tidak ada peristiwa menjijikkan yang baru saja terjadi. Si ‘pisang goreng’ masih teronggok di situ dengan bentuk yang sama sekali tidak artistik.

Kalimat pertama yang datang dari mama saya adalah, “Enggak usah dilihat. Ayo makan lagi…” Sementara itu saya hanya mengumpat dalam hati, “Watdefak!!!!” dan kembali makan.

Yah, untunglah kami berdua tidak mudah terpengaruh dengan hal seperti itu.

Beware people!

Febi, yang masih mencoba menghapus bentuk ‘pisang goreng’ itu dari ingatan


Responses

  1. huahahahaha… “most realistic true story ever” ~ kaciandotcom


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: