Posted by: arfebrina | May 28, 2011

Ingin Perubahan tapi Tak Berubah

HyaHoooo!!!

Apakah kalian terkejut karena jeda postingan kali ini tidak terlalu lama? Apakah anda terkejut dengan judul yang saya berikan di atas? Tentu tidak bukan!! Hahaha…

Iya, nih kebetulan malem minggu lagi nungguin final Liga Champion antara Manchester United vs Barca dan males tidur sebelum nonton secara sebelum terdampar di depan layar komputer saya abis makan2 besar bersama keluarga. Jadi, yah kan kata orang abis makan gak boleh tidur, jadinya yah saya merantau di internet deeehhh…

Ehm, postingan kali ini agak serius niiih, setelah postingan sebelumnya semi-serius, kali ini saya akan membuat anda sekalian berpikir… meskipun sedikit.

Well, as the title said, postingan kali ini akan membicarakan mengenai PERUBAHAN. Akhir2 ini saya cukup banyak mendengar suara2 yang menyuarakan tentang perubahan di pemerintahan, dan saya akui saya juga salah satunya. Okeylah, dengan sekian banyak kasus yang terjadi di gedung kura-kura, saya mengerti kenapa kita butuh perubahan di pemerintahan. Tapi, itu bukan berarti kita tidak berubah, bukan? Maksud saya, kalo kitanya gak berubah gimana bisa ada kesinambungan antara pejabat dan rakyat. Kenapa kebanyakan dari kita hanya menyuarakan bahwa negara, pemerintahan harus berubah, tapi sebagai rakyat kitanya sendiri gak pernah berubah?!?

Ini yang selalu saya pertanyakan. Contoh konkrit adalah beberapa waktu yang lalu, entah tahun kapan, pemerintah pernah mengusulkan untuk merenovasi bandara SoeTa yang berdebu dan ketinggalan jaman itu, tapi malah ditolak karena itu berarti akan ada pengalihan arus pesawat. Okeylah untuk ini saya masih bisa ngerti kenapa ditolak, karena bandara internasional yang ada di Jakarta, eh, ralat, Banten maksudnya, cuma SoeTa ini. TErus kenapa pemerintah gak bikin yang baru dengan lahan2 yang sekarang udah jadi apartment2nya si Podomoro dan dana2 yg buat gedung celana ngangkang?? Nah, kalo ini udah lain lagi isunya.

Contoh konkrit lg yg membuat saya mengambil kesimpulan seperti judul di atas adalah kemacetan Jakarta, terutama menyoroti jalan protokol seperti Sudirman-Thamrin. Kemacetan merupakan permasalahan yang dikeluhkan masyarakat setiap hari dan selalu bilang menyalahkan si Poke itu karena tidak bisa mengatasi masalah sehari-hari warga Jakarta ini. Well, penyebab kemacetan yang utama adalah terlalu banyak kendaraan yang ada di jalan sementara jalannya gak cukup untuk menampung semua kendaraan ini dan banyak banget warga2 di daerah pendukung Jakarta, seperti Ciledug dan Bogor, yang bekerja di Jakarta. Padahal sebenernya warga Jakarta itu dikit loooh, buktinya waktu Lebaran, Jakarta lenggang, sepi  dan gemah ripah loh jinawi.

So, klo masalahnya mobilnya kebanyakan tinggal dibatasi aja toh kendaraannya, misalnya dengan nomor mobil tertentu hanya boleh keluar hari tertentu, kayak yang diterapkan di Beijing, meskipun kemacetan masih ada, tapi setidaknya bisa dikurangi. Atau, dengan cara memperbaiki angkutan umum dan menunggu di Halte Bus, dengan cara ini orang bisa senang naik angkutan umum dan enggak ada lagi tuh angkutan yang berhenti sembarangan yang sering bikin macet jalan.

Tapi, saya udah bisa bayangin deh klo 2 kebijakan ini diterapin pasti masyarakat pada nolak, mana rela mereka yang punya mobil cuma bisa naik mobil di hari tertentu aja, mana rela mereka yang naik bus untuk harus nunggu bus di halte yang jauh dari rumah atau kantor mereka. Dan, inilah yang saya sebut ‘Ingin Perubahan tapi Tak Berubah’… pengennya memang enggak macet, tapi masyarakat kita cenderung susah untuk mengubah kebiasaan mereka. Padahal klo kita sedikit berubah dengan lebih memilih naik angkutan umum atau menunggu di halte bus sehingga bus enggak berhenti sembarangan danseandainya motor-motor itu bisa lebih tertib di jalan niscaya kemacetan di Jakarta Raya ini bisa dikurangi.

Sayangnya, masyarakat kita hanya bisa mengeluh dan berkoar-koar tanpa ada instropeksi kepada diri sendiri. Andai masyarakat kita lebih disiplin, lebih rapih, lebih sadar klo korupsi itu tidak baik, lebih sadar klo budaya jam karet itu adalah budaya yang salah, lebih sadar klo pelajaran PPKn di sekolah dulu adalah untuk dikerjakan agar kita punya masyarakat yang tertib, maka saya percaya bahwa bangsa Indonesia bisa jadi lebih baik.

Saya selalu mengingatkan kepada diri saya sebuah quotes dari salah satu presiden salah satu negara di dunia, “Jangan tanyakan apa yang bisa negara perbuat untuk anda, tanya apa yang bisa anda perbuat untuk negara.” Mulai dari hal-hal yang kecil seperti mematikan lampu yang tidak perlu di rumah-pun sebenarnya anda sudah berbuat sesuatu untuk negara. Jadi kenapa tidak mencoba mengubahnya dengan hal-hal yang agak besar seperti tertib dan disiplin.

Kita ingin perubahan, tapi perubahan itu tentunya sulit untuk tercapai apabila masyarakat sebagai pendukung sistem yang ingin diubah juga tidak berubah. Ini hanyalah buah pemikiran saya ketika mengalami kemacetan di jalan gara2 ada bus yang ngetem sembarangan dan membuat kemacetan yang lumayan panjang dan bukanlah dibuat untuk memprovokasi pihak2 tertentu. Semoga tulisan di atas bisa menjadi bacaan anda di kala senggang…

May the Force be with You

Febi =D


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: