Posted by: arfebrina | October 10, 2010

Sinetronista

Sebelum mulai, mohon membaca tulisan ini dengan pikiran terbuka. Bahwa, tulisan ini hanyalah sebuah opini dari saya yang orang awam.
Ide dari tulisan ini sebenernya sudah lama, tapi, yah, baru dituangkan sekarang.
Jadi, udah beberapa minggu ini saya ngikutin salah satu sinetron di salah satu stasiun TV. Jujur, sejak Indonesia diramaikan dengan sinetron jiplakan, saya enggak pernah betah gikutin sinetron. Tapi, saya berpikir, mungkin setelah 2 tahun ditinggal merantau, sinetron Indonesia sudah ada kemajuan. Jadi, saya tontonlah sinetron ini, karena memang tertarik dengan salah satu pemainnya.
Ternyata, secara general, sinetron Indonesia sama sekali tidak ada perubahan. Masih tetap sangat berlebihan seperti sinetron2 yang dulu, masih mengumbar kekayaan, masih mengumbar mata melotot dan teriakan2 gak jelas.
Ditambah lagi, music score yang sama untuk setiap sinetron.
Bahkan, ada sinetron yang udah nyampe berseason2, waktu saya melihat sekilas, sinetron ini gak ada perubahan sama sekali dari season 1-nya. Tetap mengumbar trik2 jahat dgn crita standart seolah2 si tokoh utama tak akan pernah mendapat kebahagiaan. Ada aja orang yang mau ngerjain dia, ngejahatin dia. Diperparah dengan directing yang jeleknya amit2, seolah2 semua orang cm muncul dr out frame.
Ada lagi sinetron yang dr awal smpe current episod cuma dipenuhi air mata, musik jeng jeng jeng, dan pelototan mata sadis plus bibir monyong2.
Sebenernya apa yang salah dengan dunia pesinetronan kita? Kenapa formulanya tetap gitu2 aja dari dulu?
Ada beberapa sinetron yang bagus di awalnya…tp ketika rating mulai meninggi dan episod diperpanjang maka ceritanya mulai enggak karuan. Setelah diselidiki, itu karena di awal ceritanya ngejiplak 100% dr crita drama Asia lain sprti Jepang dan Korea.
Ambil contoh Intan yg beberapa tahun lalu pernah meraja lela. Episod2 awal, crita Intan menjiplak drama Korea, mknya bagus. Setelah rating meninggi dan cerita diperpanjang, mulailah ceritanya jadi gak karuan. Ada lagi ‘Buku Harian Nayla’, sintron jiplakan ‘1 liter of tears’-nya Jepang. Byk bgt yg blg sinetron ini bagus, tp mnrt saya sinetron ini jd bagus krn emang ngjiplak. Dan, jelas versi Jepangnya jauh lebih bagus daripada versi Indonesianya.
Jadi jika diteliti, masalah sebenernya adalah pada para penulis cerita2 sinetron. Entah mereka dapet ide dari mana kalau penyiksaan dan penderitaan adalah hal yang menarik untuk dijadikan sebuah sinetron dan membuatnya jadi sangat berlebihan dan enggak masuk akal. Klo para produser bilang ini selera pasar, emangnya pasar mana yg disurvey? Emangnya org Indonesia yg udah susah ini tertarik untuk melihat orang yg berderai-derai air mata.
So, bgmn mmbuat sinetron yg jauh dari kenistaan? Dr yg saya baca di beberapa komen di forum2, untuk membuat sinetron yg gak lame cuma diperlukan cerita yang jujur dan ringan. Tentu saja ditambah dengan pesan moral yg tidak menggurui. Dulu aja ada ‘Si Doel’ yg masih dikenang sampai sekarang, kenapa sekarang enggak bisa membuat yg lbh baik.
Finally, these are some suggestions:
1. Hilangkan make up berlebihan. Di sinetron, bahkan pas tidur pake make up, pas sholat pake make up. Natural is the best.
2. Hilangkan adegan close-up berlebihan. Sorot dr angel2 yg lain klo emg mau memunculkan efek dramatis.
3. Hilangkan musik ‘jeng jeng jeng’ yg lebay abis dan bahkan enggak cocok sm adegannya.
4. Hilangkan sistem rating untuk nambah episod. Klo emng disukaiin, tetep aja hrs ada endingnya. Enggak perlu bikin sinetron panjang2 tp critanya gak karuan. Mending secukupnya dan diakhiri ketika masa keemasannya, jd penonton pun bs pny kesan ktika crita itu berakhir.
5. Hentikan sinetron stripping. Cukup 1-2 sinetron aja. Gak perlu smua sinetron jd stripping kan. Menunggu 1 minggu utk episod brikutnya, menjadi keasikkan tersendiri.
6. Hentikan penyiksaan dan penderitaan berlebihan yang dialami si tokoh utama. Ini formula paling basi. Mending bikin yg simpel dan dengan tema lebih beragam.

Mungkin saya hanya orang awam, tp saya jg penonton televisi yang menginginkan perubahan. Ingin mendapatkan tontonan yang lebih baik dan menghibur. Mudah2an apa yg saya ungkapkan di sini bisa berguna di kemudian hari. Jangan sampai sinetron yg tdnya diniatkan untuk menghibur malah jadi alat untuk memperbodoh bangsa.

Febi =D
Follow my twitter @FebrinaErwanto


Responses

  1. Bner bgt boy..sumpah gw heran bgt ama sistem rating itu..yg disurvey tu sapa seeh??yg di desa2?di pelosok?? Tuz apa kbr ama yg dikota2?g dianggep? Kl ngikutin slera mreka kpn mreka pinternya??!! Kadang2 suka nyelip 1 sinetron yg lumayan tp g taw knp episodnya pendek2 dg alesan rating pdhl kl dr org2 skitar feedbacknya krn akernya Ada harapan d…

    Gw rasa emg ada yg mo indo tetep bego salah 1 nya lwt tv..

    • Yah, bgitulah sinetron kita saudara Liyna. Dari dulu sampe sekarang gak ada perubahan, gak ada perkembangan.
      Gw enggak pernah betah nontonin sinetron krn trlalu byk hal gak masuk akalnya.
      Mungkin krn smua karakter di sinetron dibuat jd org bodoh.
      Klo emang mau nyari pihak yg patut disalahkan krn kebodohan dan krisis moral org Indonesia, maka sinetronlah yg patut disalahkan.
      Wong, tiap hari kerjanya ngejahatin orang mulu.


Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

Categories

%d bloggers like this: